Lifting Minyak Jauhi Target APBN
Penulis : Mila Novita "sinar harapan "
Jakarta-"kba.ajiinews"
Badan Pelaksana
Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) menyarankan
pemerintah memperbaiki asumsi produksi dan penjualan minyak pentah
(lifting) menjadi 910.000 barel per hari (bph).
Asumsi lifting dalam anggaran
pendapatan dan belanja negara (APBN) 2012 sebesar 930.000 barel per hari
(bph) dinilai terlalu tinggi. Sampai dengan Selasa (28/2), produksi
rata-rata 2012 sebesar 855.000 bph atau minus 75.000 bph dari target.
Deputi Pengendalian Operasi BP
Migas Rudi Rubiandini mengatakan bahwa pencapaian produksi yang di bawah
target ini tidak terlalu mengejutkan. BP Migas memiliki kisaran target
rata-rata 891.000-930.000 bph sepanjang 2012. Angka 891.000 bph didapat
dari program kerja dan anggaran (work programme and budget/WP&B)
dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).
Sementara, angka 930.000 didapat
dari WP&B KKKS ditambah dengan serbagai upaya di antaranya produksi
saat eksplorasi (put on production/POP), Pre-PoD (Plan of Development),
dan upaya penerapan teknologi lanjutan (enhance oil recovery).
“Dalam rangka menghitung APBN
sebaiknya digunakan angka yang most likely bisa terjadi, yaitu di
tengah-tengahnya sebesar 910.000 bph,” kata Rudi.
Kepala Divisi Humas, sekuriti,
dan Formalitas Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi
(BP Migas) Gde Pradnyana mengatakan bahwa produksi minyak nasional
sedang dalam masa penurunan. Produksi akan kembali naik pada 2014 ketika
Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, Jawa Timur, berproduksi penuh 165.000
bph pada 2014.
“Setiap tahun berpotensi mengalami penurunan sebesar 12 persen,” kata Gde di Jakarta, Rabu (29/2).
Upaya eksplorasi dan pengeboran sumur baru, kata Gde, hanya berhasil menahan laju penurunan hingga menjadi tiga persen.
Berdasarkan catatan, produksi
minyak mentah nasional pernah mengalami masa keemasan pada tahun 1997.
Saat itu produksi minyak mencapai 1,6 juta bph. Lalu, produksi mengalami
penurunan sampai akhirnya ditemukan potensi di Lapangan Duri, Riau,
pada 1995 yang produksinya mencapai 1,6 juta bph. //sibernelayan.com//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar